Seth: Anak yang Membawa Badai

   
Seth: Anak yang Membawa Badai

Seth: Anak yang Membawa Badai

Seth lahir ke dalam keluarga yang telah mengubah dunia sejak awal penciptaan.

Ia adalah putra Geb dan Nut, saudara Osiris, Isis, dan Nephthys. Di atas keluarganya terbentang langit yang dijaga Nut, sementara Geb menjadi bumi tempat mereka berdiri. Dunia telah memiliki bentuk, tetapi belum memiliki ketenangan.

Sejak awal, Seth berbeda.

Ia bukan sosok yang mudah ditempatkan dalam batas-batas sederhana. Ia dikaitkan dengan badai, gurun, kekuatan liar, dan kekacauan, tetapi juga dengan kekuatan yang dapat melindungi tatanan Mesir dari ancaman luar. Bahkan pada masa kemudian, Seth dapat dipandang sebagai pelindung kerajaan dan dikaitkan dengan dewa badai dari wilayah lain.

Namun dalam keluarganya sendiri, kekuatan itu akan membawa Seth menuju perselisihan yang tidak dapat ditarik kembali.

Di antara semua saudaranya, Osiris menjadi raja.

Dan Seth tidak puas berada di bawah bayang-bayangnya.

Di Bawah Bayang-Bayang Osiris

Osiris memegang kerajaan dan dikenal sebagai penguasa yang membawa keteraturan kepada dunia.

Seth melihat semua itu.

Ia melihat kakaknya duduk sebagai raja sementara dirinya tidak memiliki kedudukan yang sama. Perbedaan itu perlahan berubah menjadi permusuhan.

Tidak ada satu peristiwa yang dapat menjelaskan seluruh kebencian Seth.

Yang jelas, hubungan dua saudara itu akhirnya retak.

Seth memiliki kekuatan yang berbeda dari Osiris. Ia membawa sesuatu yang liar, keras, dan tidak mudah dikendalikan. Jika Osiris berdiri sebagai lambang keteraturan, Seth justru berada di sisi yang berlawanan.

Tetapi Seth bukan sekadar kejahatan yang berjalan dalam bentuk seorang dewa.

Kekuatan yang sama yang membuatnya berbahaya juga dapat membuatnya berguna.

Di dalam dirinya terdapat sesuatu yang dibutuhkan dunia: kekuatan untuk menghadapi apa yang tidak dapat dijinakkan.

Masalahnya adalah Seth tidak selalu dapat mengendalikan kekuatannya sendiri.

Dan suatu hari, kekuatan itu diarahkan kepada saudaranya.

Perangkap untuk Seorang Raja

Seth akhirnya menyusun rencana.

Ia mengadakan sebuah perjamuan dan membawa sebuah peti yang dibuat sesuai ukuran tubuh Osiris. Di hadapan para tamu, peti itu ditawarkan sebagai hadiah kepada siapa pun yang tubuhnya dapat pas di dalamnya.

Osiris masuk.

Itulah yang ditunggu Seth.

Peti itu segera ditutup dan disegel. Osiris, yang sebelumnya datang sebagai seorang raja, kini terperangkap di dalam sebuah benda yang telah dipersiapkan untuk membunuhnya.

Seth kemudian menyingkirkan peti tersebut dan membuat Osiris hilang dari dunia orang hidup.

Dengan kematian Osiris, Seth berharap jalan menuju kekuasaan menjadi terbuka.

Namun ia telah membuat satu kesalahan.

Ia mengira kematian seorang raja berarti berakhirnya warisan sang raja.

Ia tidak memperhitungkan Isis.

Ketika Isis Mengumpulkan Kembali Osiris

Isis mencari Osiris.

Ia menemukan tubuh suaminya, tetapi Seth kembali mengambilnya. Dalam perkembangan kisah tersebut, tubuh Osiris kemudian dipotong-potong dan bagian-bagiannya disebarkan.

Isis mengumpulkannya kembali.

Dengan kekuatan sihirnya, ia memulihkan Osiris sehingga saudaranya yang telah mati itu dapat mengambil tempat baru sebagai penguasa dunia orang mati.

Seth telah berhasil membunuh Osiris.

Namun ia tidak berhasil menghapusnya.

Justru dari kematian Osiris lahir sebuah ancaman yang lebih besar bagi Seth.

Horus.

Putra Osiris dan Isis.

Anak yang Datang Membawa Tuntutan

Horus tumbuh dalam perlindungan Isis.

Ia dibesarkan jauh dari Seth sampai waktunya tiba untuk menuntut warisan ayahnya.

Ketika Horus akhirnya berdiri sebagai penantang, Seth melihat bahwa apa yang telah ia rebut tidak akan aman selama anak Osiris masih hidup.

Perselisihan mereka kemudian menjadi panjang.

Bukan lagi sekadar pertengkaran antara dua saudara.

Kini yang dipertaruhkan adalah hak atas kerajaan.

Horus membawa nama Osiris.

Seth membawa kekuasaan yang telah ia ambil.

Di antara keduanya berdiri para dewa yang harus menentukan siapa yang berhak memegang kerajaan.

Seth tidak menyerah.

Ia terus mempertahankan klaimnya.

Dan Horus tidak mundur.

Pertarungan yang Mengubah Mereka

Perselisihan Horus dan Seth berkembang menjadi rangkaian ujian dan pertarungan yang panjang.

Dalam salah satu peristiwa yang kemudian sangat terkenal, Horus kehilangan atau mengalami kerusakan pada matanya akibat konflik dengan Seth. Mata tersebut kemudian dipulihkan, dan simbol mata wedjat menjadi salah satu lambang perlindungan dan pemulihan yang paling dikenal dalam kebudayaan Mesir.

Konflik itu tidak hanya meninggalkan luka pada Horus.

Seth juga kehilangan sesuatu.

Pertarungan tersebut menunjukkan bahwa kekuatan mereka hampir seimbang. Tidak mudah bagi salah satu pihak untuk menghancurkan yang lain.

Horus memiliki ketekunan.

Seth memiliki kekuatan.

Horus membawa tuntutan sebagai pewaris Osiris.

Seth menolak kehilangan kedudukannya.

Mereka terus berhadapan.

Dan semakin lama perselisihan berlangsung, semakin jelas bahwa keputusan harus dibuat.

Seth di Hadapan Para Dewa

Akhir perselisihan tidak ditentukan hanya melalui kekuatan.

Para dewa harus memutuskan siapa yang berhak menerima kerajaan.

Geb, ayah mereka, akhirnya memiliki peran penting dalam keputusan tersebut.

Seth tidak dapat mempertahankan kerajaan untuk selamanya.

Hak Horus sebagai putra Osiris akhirnya ditegaskan, dan Horus memperoleh kedudukan yang selama ini diperebutkan.

Seth kalah dalam perebutan kerajaan.

Tetapi kekalahannya tidak berarti ia dihapus dari dunia para dewa.

Ia masih memiliki tempat.

Dan tempat itu sangat berbeda dari takhta yang sebelumnya ia inginkan.

Kekuatan yang Dibutuhkan Dunia

Seth adalah sosok yang sulit disebut hanya sebagai musuh.

Ia memang menjadi pembunuh Osiris dan lawan Horus.

Namun dalam tradisi Mesir, Seth juga dapat memiliki fungsi sebagai pelindung.

Kekuatannya yang liar dapat diarahkan untuk melawan ancaman yang mengganggu perjalanan matahari dan tatanan kosmos. Pada masa-masa tertentu, kedudukannya bahkan menjadi cukup penting bagi para raja sehingga Seth dipandang sebagai pelindung kerajaan. Penggambaran Seth juga berubah-ubah sepanjang sejarah, termasuk hubungannya dengan Baal pada masa Kerajaan Baru.

Di sinilah sifat Seth menjadi semakin rumit.

Ia adalah kekacauan.

Tetapi dunia tidak selalu dapat bertahan tanpa kekuatan yang mampu menghadapi kekacauan lain.

Ia adalah badai.

Tetapi badai juga merupakan bagian dari alam.

Ia adalah musuh Osiris dan Horus.

Namun pada saat tertentu, ia dapat berdiri di sisi para dewa yang mempertahankan dunia dari ancaman yang lebih besar.

Seth tidak pernah menjadi sosok yang mudah dijinakkan oleh satu makna.

Sosok yang Tidak Memiliki Wajah Biasa

Ketika seorang seniman Mesir menggambarkan Seth, ia tidak memberinya kepala manusia biasa.

Seth memiliki bentuk khas yang dikenal sebagai hewan Seth: moncong panjang, telinga tegak, dan ciri-ciri yang tidak sepenuhnya cocok dengan satu hewan nyata. Ia juga dapat digambarkan sebagai manusia dengan kepala makhluk tersebut.

Bentuk itu sesuai dengan sifatnya.

Seth bukan sosok yang mudah dimasukkan ke dalam satu kategori.

Ia tidak sepenuhnya seperti manusia.

Tidak sepenuhnya seperti binatang.

Tidak sepenuhnya baik.

Tidak pula sekadar jahat.

Ia adalah kekuatan yang berada di batas.

Di tempat yang liar.

Di gurun yang berada di luar tanah subur.

Di badai yang mengganggu ketenangan.

Di wilayah yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan manusia.

Setelah Kekalahan

Ketika Horus akhirnya mendapatkan kedudukan sebagai pewaris yang sah, Seth kehilangan apa yang paling ia inginkan.

Namun ia tidak lenyap.

Dunia masih membutuhkan kekuatannya.

Seth tetap menjadi bagian dari susunan para dewa.

Dalam beberapa tradisi, ia bahkan berdiri sebagai kekuatan yang membantu mempertahankan perjalanan matahari dari ancaman besar yang datang dari kegelapan. Ia tidak lagi menjadi pusat perebutan takhta, tetapi perannya sebagai kekuatan pelindung tetap dapat muncul dalam gambaran keagamaan Mesir.

Seth mungkin tidak mendapatkan kerajaan yang ia inginkan.

Tetapi ia mendapatkan tempat yang tidak dapat diberikan kepada Osiris atau Horus.

Tempat di sisi kekuatan liar.

Tempat bagi badai.

Tempat bagi gurun.

Tempat bagi sesuatu yang tidak selalu dapat dikendalikan.

Dan mungkin justru di situlah Seth paling sesuai.

Seth, Sang Kekuatan yang Tidak Jinak

Seth memulai kisahnya sebagai seorang anak Geb dan Nut.

Ia tumbuh menjadi saudara Osiris.

Ia melihat kakaknya menjadi raja.

Ia kemudian memilih untuk merebut kedudukan tersebut dengan cara yang membawa kematian.

Ia menjadi musuh Isis.

Ia menjadi paman Horus.

Ia bertarung demi kerajaan.

Dan pada akhirnya, ia kehilangan apa yang telah ia perjuangkan.

Namun kisahnya tidak berakhir sebagai kisah seorang penjahat yang dikalahkan lalu dilupakan.

Seth terlalu besar untuk itu.

Ia adalah badai yang tidak dapat diperintah.

Ia adalah gurun yang berada di luar tanah subur.

Ia adalah kekuatan yang dapat menghancurkan, tetapi pada saat yang berbeda juga dapat digunakan untuk melindungi.

Karena itu, ketika Horus berdiri sebagai raja dan Osiris duduk di kerajaan orang mati, Seth tetap memiliki tempatnya sendiri.

Bukan di takhta Osiris.

Bukan di tempat Horus.

Melainkan di wilayah yang selalu berada di luar batas—tempat angin menjadi keras, langit menggelap, dan dunia mengingat bahwa keteraturan tidak pernah benar-benar ada tanpa sesuatu yang terus mengujinya.

Seth tidak menjadi pahlawan.

Ia juga tidak berhenti menjadi ancaman.

Ia tetap menjadi Seth.

Dan justru karena itulah namanya bertahan sebagai salah satu sosok paling rumit dalam saga keluarga para dewa Mesir.

Last update
Add Comment

⚡ Trending!