Nephthys lahir di antara langit dan bumi.
Ia adalah putri Geb dan Nut, saudari Osiris, Isis, dan Seth. Di atasnya terbentang tubuh Nut yang luas sebagai langit, sementara di bawahnya Geb menjadi bumi tempat para dewa dan manusia kelak menjalani kehidupan.
Ia tumbuh di tengah keluarga yang kelak menjadi pusat dari salah satu kisah paling besar dalam dunia para dewa Mesir.
Namun Nephthys tidak seperti Osiris yang menjadi raja.
Ia bukan seperti Isis yang kelak dikenal karena perjuangannya menyelamatkan suaminya dan melindungi anaknya.
Ia juga tidak seperti Seth yang membawa perselisihan ke dalam keluarganya sendiri.
Jalan Nephthys berada di tempat yang lebih sunyi.
Ia berdiri dekat dengan kematian.
Dekat dengan kehilangan.
Dekat dengan mereka yang tertinggal ketika seseorang pergi.
Dalam penggambaran Mesir Kuno, Nephthys biasanya tampil sebagai perempuan dengan tanda namanya di atas kepala—gabungan hieroglif yang melambangkan rumah dan keranjang. Ia dikenal terutama melalui perannya dalam perkabungan, pemakaman, dan perlindungan terhadap orang yang telah meninggal.
Namun sebelum menjadi penjaga orang mati, Nephthys terlebih dahulu menjadi seorang saudari.
Dan suatu hari, salah satu saudaranya akan mati.
Saudari di Tengah Keluarga Para Dewa
Nephthys tumbuh bersama tiga saudara yang memiliki jalan mereka masing-masing.
Osiris menjadi raja.
Isis berdiri di sisinya.
Seth membawa kekuatan yang keras dan sulit dikendalikan.
Nephthys sendiri menjadi istri Seth.
Namun pernikahan itu tidak membuatnya menjadi sosok yang sama dengan suaminya.
Seth berkaitan dengan kekuatan liar, badai, gurun, dan kekacauan. Nephthys justru semakin dekat dengan wilayah yang berada di batas antara kehidupan dan kematian.
Mereka adalah pasangan yang berada dalam satu keluarga, tetapi jalan mereka semakin lama semakin berbeda.
Di satu sisi ada Seth, yang akhirnya mengangkat tangannya melawan Osiris.
Di sisi lain ada Nephthys, yang akan menemukan dirinya terjebak di antara suaminya dan saudara-saudaranya.
Ketika perselisihan keluarga itu berubah menjadi tragedi, Nephthys tidak dapat lagi berdiri di luar masalah.
Ketika Osiris Jatuh
Osiris menjadi raja.
Seth tidak menerimanya.
Kemudian datanglah perangkap yang disiapkan Seth.
Osiris masuk ke dalam peti yang telah dibuat untuknya. Peti itu ditutup dan disingkirkan, dan sang raja menghilang dari dunia orang hidup.
Nephthys kini menghadapi kehilangan yang tidak dapat ia abaikan.
Osiris bukan hanya seorang raja.
Ia adalah saudaranya.
Dan di dalam keluarga mereka, kematian seorang saudara berarti sesuatu yang jauh lebih besar daripada berakhirnya satu kehidupan.
Isis mulai mencari Osiris.
Nephthys berada di sisinya.
Keduanya kemudian menjadi pasangan yang sering digambarkan bersama di dekat tubuh Osiris. Dalam seni pemakaman, Isis dan Nephthys dapat terlihat mengapit atau menjaga jasad sang dewa, dengan kedua tangan terangkat dalam sikap perlindungan dan perkabungan.
Nephthys tidak dapat menghapus apa yang telah terjadi.
Tetapi ia dapat berkabung.
Ia dapat menjaga.
Dan ia dapat membantu mengumpulkan kembali apa yang telah dihancurkan.
Dua Saudari di Sisi Osiris
Ketika tubuh Osiris kembali ditemukan setelah disembunyikan oleh Seth, Nephthys membantu Isis.
Tubuh itu telah mengalami kehancuran, tetapi bagi kedua saudari tersebut, kehancuran bukan alasan untuk meninggalkan Osiris.
Mereka mengumpulkan bagian-bagian yang dapat ditemukan.
Mereka menjaga tubuhnya.
Mereka memanjatkan ratapan.
Dan melalui kekuatan Isis serta bantuan para dewa lainnya, Osiris dipulihkan cukup untuk menjalani kehidupan baru sebagai penguasa dunia orang mati.
Di sisi Osiris, Nephthys bukan lagi hanya seorang saudari.
Ia menjadi salah satu penjaga tubuhnya.
Dalam seni Mesir, posisi Isis dan Nephthys di kedua sisi orang yang meninggal bukan sekadar hiasan. Kedua dewi itu menjadi pelindung yang mengapit jasad, seolah memastikan bahwa orang yang telah pergi tidak menghadapi perjalanan terakhirnya seorang diri.
Dan bagi Nephthys, tugas itu terasa seperti sesuatu yang memang menjadi miliknya.
Ia tahu bagaimana berdiri di dekat kehilangan.
Ratapan yang Memanggil Kembali Kehidupan
Ada saat ketika tangisan tidak lagi hanya berarti kesedihan.
Ia dapat menjadi panggilan.
Dalam tradisi yang berkaitan dengan Osiris, Isis dan Nephthys bersama-sama meratap dan memanggil kembali sang dewa. Keduanya dikenal sebagai dua saudari yang memohon agar Osiris kembali menerima kehidupan, dan liturgi mereka kemudian menjadi bagian dari tradisi ritual pemakaman.
Nephthys berdiri bersama Isis.
Dua saudari.
Dua suara.
Satu kehilangan.
Mereka tidak dapat mengembalikan masa lalu.
Osiris tidak akan kembali menjadi raja seperti dahulu.
Tetapi mereka dapat membantu membuka jalan menuju kehidupan yang baru.
Dari sana Osiris memperoleh tempatnya sebagai penguasa dunia orang mati.
Dan Nephthys menemukan peran yang akan melekat pada dirinya jauh setelah kisah keluarganya berakhir.
Ia menjadi pendamping bagi mereka yang telah meninggalkan dunia.
Penjaga di Sisi Orang Mati
Ketika manusia meninggal, mereka tidak dibiarkan sendirian.
Dalam gambaran pemakaman Mesir, banyak dewa berperan dalam perjalanan menuju kehidupan berikutnya. Anubis berkaitan dengan pembalseman, Osiris menjadi penguasa alam baka, sementara Isis dan Nephthys hadir sebagai para pelayat sekaligus pelindung.
Nephthys berdiri di dekat tubuh yang telah dibaringkan.
Ia tidak dapat mengembalikan seseorang ke kehidupan duniawi.
Namun ia dapat menjaga batas antara kehidupan dan kematian.
Ia seakan berkata kepada mereka yang telah pergi bahwa perjalanan mereka belum berakhir.
Dalam sebuah kanopik dari Kerajaan Baru, Nephthys menjadi salah satu dari empat dewi pelindung yang ditempatkan bersama wadah-wadah yang menjaga organ orang yang telah dimakamkan. Ia dikaitkan dengan perlindungan dan digambarkan seolah merangkul apa yang berada di dalam wadah tersebut.
Perlindungan itu sangat sesuai dengan sifat Nephthys.
Ia bukan dewi yang menguasai kematian.
Ia adalah sosok yang menjaga seseorang ketika kematian telah datang.
Di Samping Isis
Nephthys dan Isis sering berdiri bersama.
Keduanya adalah saudari.
Keduanya memiliki hubungan dengan Osiris.
Keduanya menjadi pelindung orang mati.
Tetapi mereka tidak menjadi sosok yang sama.
Isis lebih sering tampil sebagai sosok yang bertindak untuk mengubah keadaan—mencari Osiris, memulihkannya, kemudian melindungi Horus.
Nephthys lebih sering hadir di sisi mereka yang sedang mengalami kehilangan.
Ia berkabung bersama Isis.
Ia menjaga Osiris.
Ia melindungi orang mati.
Dan dalam seni pemakaman, kedua saudari itu sering menjadi pasangan yang mengapit tubuh orang yang telah meninggal.
Seolah-olah seseorang yang telah meninggalkan dunia tidak pernah benar-benar sendirian.
Di satu sisi ada Isis.
Di sisi lain ada Nephthys.
Di antara keduanya terdapat orang yang sedang bersiap memasuki kehidupan berikutnya.
Di Antara Dua Dunia
Ada sesuatu yang khas dalam perjalanan Nephthys.
Ia tidak sepenuhnya berada di dunia orang hidup.
Tetapi ia juga bukan penguasa dunia orang mati.
Ia berada di ambang.
Ia adalah saudari yang kehilangan.
Ia adalah pelindung yang menjaga.
Ia adalah sosok yang berdiri ketika orang lain berduka.
Karena itu, kehadirannya sangat cocok dengan wilayah senja—bukan siang sepenuhnya, tetapi belum menjadi malam.
Ia tidak membutuhkan takhta untuk memiliki kekuasaan.
Tugasnya justru berada pada tempat yang sering tidak ingin dilihat manusia.
Tempat ketika seseorang telah pergi.
Tempat ketika keluarga berkumpul di sekitar tubuh yang tidak lagi bergerak.
Tempat ketika kesedihan terasa paling berat.
Di sanalah Nephthys berdiri.
Ketika Horus Tumbuh
Setelah Osiris menjadi penguasa dunia orang mati, kisah keluarga itu belum selesai.
Isis menjaga Horus.
Seth tetap menjadi lawan.
Dan Nephthys tetap berada dekat dengan keluarga yang telah terpecah.
Perselisihan Horus dan Seth kemudian menentukan siapa yang berhak atas warisan Osiris.
Nephthys bukan pusat dari pertarungan tersebut.
Namun ia tetap menjadi bagian dari keluarga yang mempertaruhkan masa depannya.
Ia telah melihat Osiris jatuh.
Ia telah melihat Isis mencari.
Ia telah melihat seorang anak tumbuh dari kehilangan ayahnya.
Dan sementara Horus semakin dekat dengan takdirnya, Nephthys tetap membawa peran yang berbeda.
Ia adalah saudari Osiris.
Ia adalah saudari Isis.
Ia adalah saudari Seth.
Di antara mereka, tidak ada hubungan yang sederhana lagi.
Keluarga yang dahulu lahir dari Geb dan Nut telah berubah menjadi keluarga yang dibentuk oleh kematian, kehilangan, dan perebutan warisan.
Nephthys yang Tetap Berdiri
Bertahun-tahun berlalu.
Kisah Osiris semakin jauh.
Horus akhirnya memperoleh kedudukannya.
Seth tetap menjadi kekuatan yang tidak mudah hilang.
Isis terus dikenang sebagai ibu dan pelindung.
Namun Nephthys tetap berada di tempat yang menjadi miliknya sejak tragedi Osiris.
Di samping mereka yang berduka.
Di dekat tubuh yang dijaga.
Di batas antara kehidupan dan kematian.
Seni Mesir terus menggambarkannya dalam berbagai bentuk: sebagai perempuan dengan lambang namanya, sebagai dewi yang berkabung, sebagai pelindung makam dan jasad, dan sebagai sosok yang berdiri bersama Isis di sekitar Osiris.
Ia mungkin tidak selalu mendapatkan kisah sebesar saudara-saudaranya.
Namun ketika seseorang membutuhkan perlindungan setelah kematian, perannya menjadi sangat penting.
Saudari yang Menjaga Keheningan
Nephthys tidak memiliki kisah tentang perebutan takhta seperti Seth dan Horus.
Ia tidak menjadi ratu dunia orang mati seperti Osiris.
Ia tidak melakukan perjalanan sebesar Isis dalam mencari dan memulihkan suaminya.
Namun ketika semua itu telah terjadi, ketika pertarungan berakhir dan suara-suara mulai menghilang, Nephthys tetap ada.
Ia berdiri di dekat mereka yang telah pergi.
Ia berdiri bersama mereka yang ditinggalkan.
Ia berkabung ketika orang lain tidak lagi memiliki kata-kata.
Dan ia menjaga ketika tubuh yang telah kehilangan kehidupan membutuhkan perlindungan.
Itulah sebabnya Nephthys tidak perlu menjadi tokoh yang paling keras untuk menjadi penting.
Kekuatannya berada dalam kesetiaan yang tenang.
Ia tidak mencegah semua kematian.
Ia tidak dapat menghapus semua kehilangan.
Tetapi ketika kehilangan itu datang, ia tidak berpaling.
Di sisi Osiris, ia berdiri bersama Isis.
Di sisi orang yang telah meninggal, ia menjaga.
Dan di ambang antara dunia yang hidup dan dunia yang telah ditinggalkan, Nephthys tetap menjadi sosok yang menunggu dalam keheningan—seorang saudari, pelayat, dan pelindung yang memastikan bahwa mereka yang telah pergi tidak berjalan sendirian menuju malam.
