Osiris: Ketika Kerajaan Masih Berada di Tangan Para Dewa

  •  
Osiris: Ketika Kerajaan Masih Berada di Tangan Para Dewa

Osiris: Ketika Kerajaan Masih Berada di Tangan Para Dewa

Di atas bumi yang telah dipisahkan dari langit, Osiris tumbuh sebagai putra Geb dan Nut.

Ia lahir bersama saudara-saudaranya—Isis, Seth, dan Nephthys—ke dalam keluarga yang sejak awal membawa kekuatan besar. Di atas mereka terbentang Nut, sang langit. Di bawah mereka terbentang Geb, sang bumi. Dunia telah memiliki tempat bagi kehidupan, tetapi belum semua yang berada di dalamnya mengenal keteraturan.

Osiris datang sebagai sosok yang berbeda dari adiknya, Seth.

Jika Seth membawa kekuatan yang keras dan sulit dijinakkan, Osiris dikenal sebagai raja yang berkaitan dengan keteraturan, kesuburan, dan kehidupan yang terus berulang. Kelak, setelah kematiannya, ia akan menjadi penguasa dunia orang mati dan menjadi salah satu dewa paling penting dalam kepercayaan Mesir tentang kehidupan setelah kematian.

Tetapi pada awal kisahnya, Osiris belum menjadi penguasa orang mati.

Ia adalah seorang raja yang masih berjalan di antara dunia yang hidup.

Raja yang Membawa Keteraturan

Ketika Osiris memegang kekuasaan atas bumi, ia tidak memerintah seperti seorang penguasa yang hanya duduk jauh dari rakyatnya.

Kisah tentang dirinya menempatkannya sebagai sosok yang membawa tatanan dan kehidupan kepada dunia manusia. Pemerintahannya kemudian dikenang sebagai masa ketika kehidupan menjadi lebih teratur dan manusia memperoleh pengetahuan yang membuat mereka dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Di sisinya berdiri Isis.

Isis bukan hanya saudari Osiris, tetapi juga istrinya dan sosok yang kelak menjadi bagian terpenting dari perjalanan hidupnya.

Bersama-sama mereka menjadi pasangan kerajaan.

Namun di dalam keluarga itu terdapat satu sosok yang tidak menerima kedudukan Osiris dengan tenang.

Seth.

Adik mereka melihat kerajaan dengan cara berbeda.

Dan perlahan, sesuatu yang gelap mulai tumbuh di antara dua saudara itu.

Bayangan Seth

Osiris memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Seth.

Ia memiliki kedudukan sebagai raja.

Selama Osiris memerintah, Seth tetap berada di dalam bayang-bayang saudaranya. Permusuhan di antara keduanya akhirnya berkembang menjadi pengkhianatan.

Osiris tidak mengetahui seberapa jauh kebencian itu akan membawanya.

Dalam satu kisah yang kemudian menjadi inti perjalanan Osiris, Seth menyusun sebuah tipu daya. Ia membuat sebuah peti yang ukurannya disesuaikan dengan tubuh Osiris, lalu mengadakan jamuan yang diubah menjadi perangkap.

Ketika Osiris masuk ke dalam peti tersebut, para pengikut Seth menutupnya dan menyegelnya.

Raja yang sebelumnya berdiri di tengah dunia yang hidup kini terperangkap.

Peti itu kemudian dihanyutkan mengikuti arus Sungai Nil.

Osiris menghilang.

Tetapi kisahnya belum berakhir.

Ketika Isis Mencari Osiris

Berita tentang hilangnya Osiris membawa kesedihan kepada Isis.

Ia tidak menerima kehilangan itu begitu saja.

Isis mulai mencari suaminya.

Perjalanannya membawanya jauh dari tempat Osiris terakhir terlihat. Ia mencari jejak yang tersisa, mengikuti kabar yang samar, dan akhirnya menemukan tubuh Osiris.

Untuk sesaat, ia dapat membawa kembali sesuatu yang telah hilang.

Tetapi Seth belum selesai.

Tubuh Osiris kembali ditemukan dan disembunyikan oleh Seth. Dalam versi kisah yang kemudian berkembang, tubuh itu dipotong-potong dan bagian-bagiannya disebarkan ke berbagai tempat.

Sekali lagi Isis harus mencari.

Namun kali ini yang ia cari bukan sekadar seorang suami yang hilang.

Ia sedang berusaha mengumpulkan kembali Osiris.

Tubuh yang Dikumpulkan Kembali

Isis tidak menyerah.

Dengan bantuan Nephthys dan sekutu lainnya, ia mencari bagian-bagian tubuh Osiris yang telah tersebar.

Satu demi satu dikumpulkan.

Satu demi satu dibawa kembali.

Kisah itu menjadi perjalanan panjang seorang istri yang menolak membiarkan kematian menjadi akhir bagi orang yang dicintainya.

Melalui kekuatan sihir dan kesetiaannya, Isis berhasil mengembalikan tubuh Osiris ke dalam keadaan yang memungkinkan dirinya memperoleh kehidupan baru—tetapi bukan kehidupan seperti sebelumnya.

Osiris tidak kembali untuk memerintah dunia orang hidup.

Ia telah berubah.

Kematian telah membawa dirinya ke tempat lain.

Dan justru di sanalah takdir terbesarnya menunggu.

Raja yang Bangkit di Dunia Kematian

Setelah kematiannya, Osiris menjadi penguasa dunia orang mati.

Ia tidak lagi berjalan sebagai raja di bumi.

Ia duduk di takhta yang berada di alam kematian, menjadi penguasa bagi mereka yang telah meninggalkan kehidupan.

Dalam seni Mesir, perubahan itu tampak jelas. Osiris hampir selalu digambarkan dalam bentuk seperti mumi, dengan tubuh terbungkus kain, mengenakan mahkota atef, serta memegang tongkat kerajaan dan cambuk sebagai tanda kekuasaan.

Ia tidak digambarkan sebagai sosok yang lemah karena telah mati.

Sebaliknya, kematian justru menjadi sumber kekuasaannya yang baru.

Osiris menjadi penguasa alam kematian.

Ia adalah raja yang tidak kehilangan takhtanya ketika kehilangan kehidupan.

Ia hanya berpindah kerajaan.

Di Hadapan Takhta Osiris

Di alam yang berada setelah kehidupan, mereka yang telah meninggal akhirnya datang ke hadapan Osiris.

Ia duduk sebagai penguasa, menerima mereka yang telah melewati perjalanan menuju dunia berikutnya.

Namun sebelum seseorang dapat berada di hadapannya, perjalanan mereka berkaitan dengan penghakiman dan penilaian terhadap kehidupan yang telah dijalani.

Osiris menjadi tujuan terakhir dari perjalanan tersebut.

Gambaran tentang dirinya sebagai penguasa alam baka menjadi sangat kuat dalam kebudayaan Mesir. Dalam adegan makam dan papirus, Osiris dapat ditampilkan duduk di dalam kuil atau takhta, sementara orang yang telah meninggal datang menghadapnya setelah melewati penghakiman.

Ia tidak lagi menjadi raja yang mengatur ladang dan kota.

Ia menjadi raja bagi mereka yang telah meninggalkan dunia.

Dan kematiannya sendiri membuatnya mampu memahami kerajaan tersebut dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh penguasa lain.

Osiris dan Harapan untuk Hidup Kembali

Namun kisah Osiris bukan sekadar kisah tentang kematian.

Justru dari kematian itulah muncul gagasan tentang kehidupan kembali.

Osiris menjadi berkaitan erat dengan siklus kehidupan, kematian, dan pembaruan. Nasibnya menjadi gambaran bahwa sesuatu dapat berakhir tanpa benar-benar musnah.

Seperti benih yang masuk ke dalam tanah sebelum tumbuh kembali, Osiris menjadi sosok yang menghubungkan kematian dengan kemungkinan kehidupan baru.

Karena itulah ia begitu dekat dengan gagasan kesuburan.

Bumi menerima tubuh.

Bumi menumbuhkan kehidupan.

Kemudian kehidupan kembali menghasilkan kehidupan.

Osiris berdiri di tengah siklus tersebut.

Ia pernah menjadi raja dunia yang hidup.

Ia mati.

Ia bangkit sebagai penguasa dunia orang mati.

Dan dari kedudukannya itu, ia menjadi simbol bahwa kematian tidak harus menjadi akhir dari segala sesuatu.

Anak yang Mewarisi Dunia

Sementara Osiris menjalani kehidupan barunya di alam kematian, sesuatu yang lain terjadi di dunia orang hidup.

Isis telah melahirkan Horus.

Horus adalah anak Osiris.

Ia tumbuh dengan warisan yang ditinggalkan ayahnya: hak atas kerajaan.

Namun kerajaan itu masih berada dalam kekuasaan Seth.

Maka kisah Osiris terus berjalan meskipun ia sendiri telah meninggalkan dunia orang hidup.

Sang ayah menjadi alasan bagi anaknya untuk berjuang.

Horus kelak menghadapi Seth dalam perselisihan panjang mengenai hak atas kerajaan. Di belakang perjuangan itu terdapat bayangan Osiris—raja yang telah dibunuh, tetapi tidak dilupakan.

Osiris tidak perlu mengangkat senjata lagi.

Kehadirannya sendiri sudah cukup untuk membuat warisannya tetap hidup.

Ketika Raja Mati Menjadi Abadi

Bagi seorang raja manusia, kematian berarti meninggalkan takhta dunia.

Bagi Osiris, kematian mengubah arti takhta itu sendiri.

Ia menjadi penguasa alam baka, sementara Horus menjadi sosok yang berkaitan dengan kerajaan dunia orang hidup. Tradisi Mesir kemudian menghubungkan setiap raja yang meninggal dengan Osiris, sedangkan raja yang masih hidup dikaitkan dengan Horus.

Dengan demikian, kematian Osiris tidak menghapus kedudukannya sebagai raja.

Kematian justru membuatnya menjadi model bagi para penguasa yang akan datang.

Setiap raja yang meninggal dapat berharap untuk bergabung dengan Osiris.

Setiap raja yang masih memerintah berdiri dalam hubungan dengan Horus.

Dua keadaan itu bertemu dalam satu garis keturunan.

Osiris tetap menjadi ayah.

Tetap menjadi raja.

Tetap menjadi leluhur.

Hanya saja kerajaannya kini berada di tempat yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia.

Osiris yang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

Bertahun-tahun berlalu.

Kisah tentang pengkhianatan Seth tidak menghapus nama Osiris.

Kesedihan Isis tidak menghapusnya.

Kematian tidak menghapusnya.

Justru setelah semuanya berakhir, Osiris menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.

Di dunia orang hidup, ia dikenang sebagai raja yang kehilangan kerajaan karena pengkhianatan.

Di dunia orang mati, ia berdiri sebagai penguasa.

Dalam wujudnya yang dibungkus kain seperti mumi, dengan mahkota tinggi dan lambang kerajaan di tangannya, ia tidak tampak seperti seorang raja yang telah dikalahkan. Ia tampak seperti seseorang yang telah menemukan kerajaan lain setelah kehilangan yang pertama.

Dan di dunia yang terus berubah, itulah yang membuat kisah Osiris bertahan.

Ia tidak menang dengan mengalahkan kematian.

Ia menang dengan mengubah arti kematian.

Raja di Balik Kehidupan

Pada akhirnya, perjalanan Osiris dimulai sebagai perjalanan seorang raja.

Ia lahir sebagai putra Geb dan Nut.

Ia menjadi suami Isis.

Ia memerintah dunia orang hidup.

Ia dikhianati oleh Seth.

Ia kehilangan kehidupannya.

Ia dicari oleh Isis.

Tubuhnya dikumpulkan kembali.

Dan setelah semua itu, ia menjadi penguasa alam kematian.

Tetapi kisahnya tidak berhenti di sana.

Di dunia orang hidup, Horus membawa darah dan warisan Osiris.

Di dunia orang mati, Osiris tetap duduk di atas takhtanya.

Setiap manusia yang berharap bahwa kehidupan memiliki kelanjutan setelah kematian seakan berjalan menuju kerajaan yang telah menjadi miliknya.

Osiris pernah kehilangan segala sesuatu.

Namun dari kehilangan itu, ia memperoleh kerajaan yang tidak dapat direbut oleh saudaranya.

Kerajaan dunia orang mati.

Dan selama manusia masih memandang kematian bukan sebagai akhir mutlak, nama Osiris akan tetap berdiri di balik batas antara kehidupan dan keabadian—seorang raja yang kehilangan dunia, lalu menemukan kerajaan yang tidak pernah benar-benar dapat ditinggalkan.

Last update
Add Comment

⚡ Trending!