Sebelum kaki makhluk hidup dapat menyentuh tanah, bumi belum memiliki bentuk yang dapat dikenali. Langit belum terbentang jauh di atasnya, dan ruang di antara keduanya belum terbuka. Dunia masih berada pada masa ketika segala sesuatu yang kelak menjadi tempat kehidupan sedang mencari susunannya.
Di tengah proses itu lahirlah Geb, putra Shu dan Tefnut.
Ia datang setelah Atum melahirkan Shu dan Tefnut, ketika keluarga para dewa mulai tumbuh dan dunia perlahan meninggalkan kesunyian pertamanya. Bersama saudara kembarnya, Nut, Geb menjadi bagian dari generasi yang akan menentukan bentuk alam semesta.
Geb adalah bumi.
Namun pada awalnya, ia belum menjadi bumi yang terpisah dari langit.
Ia dan Nut lahir begitu dekat, seolah tidak ada kekuatan yang dapat memisahkan mereka.
Geb dan Nut
Geb dan Nut tumbuh bersama dalam pelukan yang tidak memberi ruang bagi dunia di antara mereka.
Geb berada di bawah, sementara Nut melengkung di atasnya. Keduanya saling berdekatan hingga langit dan bumi belum memiliki batas yang jelas.
Bagi Geb, Nut bukan sekadar langit yang kelak membentang jauh di atas kepalanya. Ia adalah saudara kembarnya, sekaligus pasangan yang paling dekat dengannya.
Tetapi kedekatan mereka menjadi masalah bagi dunia yang baru terbentuk.
Tidak ada ruang bagi udara untuk bergerak. Tidak ada tempat bagi cahaya untuk melintas. Tidak ada ruang bagi kehidupan untuk tumbuh di antara bumi dan langit.
Maka datanglah Shu.
Ayah mereka berdiri di antara keduanya dan mengangkat Nut menjauh dari Geb.
Sedikit demi sedikit, langit naik.
Geb tetap berada di bawah.
Jarak terbuka.
Dan untuk pertama kalinya, bumi memiliki ruang di atasnya.
Adegan itu kemudian menjadi salah satu gambaran paling dikenal dalam seni Mesir: Geb berbaring dengan tubuh membentang, Nut melengkung sebagai langit di atasnya, sementara Shu berdiri di antara keduanya dan menopang langit. Sebuah papirus dari sekitar 950–930 SM yang kini berada di British Museum memperlihatkan susunan tersebut secara jelas.
Bagi dunia, pemisahan itu adalah awal kehidupan.
Bagi Geb, itu berarti perpisahan.
Bumi yang Menunggu Langit
Setelah Nut terangkat, Geb tetap berada di bawah.
Tubuhnya menjadi tanah yang membentang luas. Ia menjadi tempat bagi tumbuhan untuk tumbuh, tempat air mengalir, dan tempat kehidupan memperoleh pijakan.
Tetapi matanya selalu tertuju kepada Nut.
Langit berada jauh di atasnya.
Geb tidak dapat lagi merangkulnya seperti sebelumnya.
Jarak yang diciptakan Shu menjadi bagian dari susunan dunia yang tidak dapat dibatalkan.
Namun perpisahan itu tidak menghapus hubungan mereka.
Nut tetap menjadi langit di atas Geb.
Geb tetap menjadi bumi di bawah Nut.
Keduanya masih saling membutuhkan, meskipun tidak lagi dapat bersentuhan.
Di antara mereka terdapat udara yang dibawa Shu, ruang tempat matahari bergerak dan tempat kehidupan kelak berkembang.
Geb mungkin tidak pernah meminta menjadi bumi.
Tetapi itulah peran yang diberikan kepadanya.
Dan dari peran tersebut, kekuatannya mulai terlihat.
Tubuh Geb Menjadi Kehidupan
Bumi bukan sekadar tempat yang diam.
Dari tanah muncul tumbuhan.
Dari tanah keluar mineral.
Di dalam tanah hidup makhluk-makhluk yang tersembunyi dari pandangan.
Geb karena itu tidak hanya berkaitan dengan tanah, tetapi juga kesuburan dan kehidupan baru. Ia sering digambarkan sebagai sosok manusia yang berbaring atau bersandar, tubuhnya membentang seperti permukaan bumi. Dalam sejumlah penggambaran, warna hijau atau tumbuhan digunakan untuk menekankan hubungannya dengan kesuburan.
Namun bumi juga memiliki sisi yang lain.
Ia memberikan kehidupan, tetapi pada akhirnya tubuh orang-orang yang mati kembali kepadanya.
Tanah yang menumbuhkan tanaman juga menjadi tempat manusia beristirahat setelah kehidupan berakhir.
Karena itu Geb memiliki dua wajah yang tidak dapat dipisahkan.
Ia adalah kesuburan.
Ia juga adalah bumi yang menerima orang mati.
Kehidupan dan kematian bertemu di dalam dirinya.
Anak-Anak Geb
Setelah Geb dan Nut menjadi pasangan, keluarga mereka tumbuh semakin besar.
Dari keduanya lahirlah Osiris, Isis, Seth, dan Nephthys.
Empat anak itu kemudian menjadi tokoh-tokoh penting dalam kisah yang jauh lebih besar daripada kehidupan orang tua mereka.
Osiris membawa kisah tentang kerajaan, kematian, dan kehidupan kembali.
Isis menjadi sosok yang akan berjuang dengan kecerdikan dan keteguhan.
Seth membawa kekuatan yang berlawanan dengan saudaranya.
Nephthys berdiri di antara mereka dalam kisah keluarga yang penuh kehilangan dan kesetiaan.
Namun sebelum semua itu terjadi, mereka hanyalah anak-anak Geb dan Nut.
Geb menjadi ayah dari generasi yang kelak mengguncang dunia para dewa. Hubungan keluarga tersebut merupakan bagian dari susunan Ennead Heliopolis: Atum berada di awal, kemudian Shu dan Tefnut, lalu Geb dan Nut, dan dari mereka lahir Osiris, Isis, Seth, serta Nephthys.
Dengan kelahiran mereka, dunia yang dahulu hanya memiliki beberapa dewa pertama kini memiliki keluarga yang semakin lengkap.
Tetapi bersama keluarga itu datang pula konflik.
Ketika Anak-Anaknya Membawa Perubahan
Geb menyaksikan anak-anaknya tumbuh.
Ia melihat Osiris dan Isis mengambil tempat mereka.
Ia melihat Seth, dengan sifatnya yang keras dan sulit dikendalikan, menjadi bagian dari keluarga yang sama.
Ia melihat Nephthys berdiri di samping saudara-saudaranya.
Tidak ada yang dapat mengira bahwa keluarga itu kelak akan terpecah oleh iri hati, kematian, dan perebutan kekuasaan.
Namun ketika konflik antara Osiris dan Seth akhirnya terjadi, Geb tidak lagi hanya menjadi ayah.
Ia menjadi hakim.
Perannya menjadi penting ketika persoalan kekuasaan atas Mesir harus ditentukan.
Dalam tradisi yang berkaitan dengan perselisihan antara Horus dan Seth, Geb tampil sebagai pihak yang memberikan keputusan mengenai hak atas kerajaan. Salah satu tradisi menyebut bahwa ia mula-mula membagi wilayah antara kedua pihak sebelum akhirnya memberikan seluruh kerajaan kepada Horus.
Keputusan itu membuat kedudukan Geb menjadi lebih besar daripada sekadar leluhur.
Ia adalah bumi yang menjadi tempat kerajaan berdiri.
Dan karena itu, keputusan dari penguasa bumi memiliki bobot yang sangat besar.
Geb Sang Penguasa
Geb sendiri pernah dipandang sebagai penguasa bumi sebelum pemerintahan para raja manusia.
Karena itu, ketika seorang raja Mesir kemudian dianggap sebagai penerus Horus, hubungan dengan Geb menjadi bagian dari gagasan tentang kerajaan.
Takhta Mesir bahkan dapat dikaitkan dengan Geb sebagai sumber legitimasi bumi dan kerajaan.
Bagi Geb, kekuasaan bukan hanya tentang sebuah mahkota.
Kekuasaan adalah kemampuan menjaga sesuatu tetap berada di tempatnya.
Bumi harus tetap kokoh.
Kerajaan harus tetap berdiri.
Kekacauan harus memiliki batas.
Dan ketika perselisihan anak-anaknya mengancam susunan dunia, Geb harus menentukan siapa yang berhak menerima warisan.
Ia tidak dapat memilih berdasarkan kasih seorang ayah.
Ia harus memilih berdasarkan tatanan yang menurutnya benar.
Tawa yang Mengguncang Tanah
Namun Geb bukan hanya sosok yang diam dan kaku.
Bumi memiliki kekuatannya sendiri.
Dalam tradisi Mesir, Geb juga dikaitkan dengan gempa bumi melalui gambaran tentang tawanya yang dapat mengguncang tanah. Ia menjadi pengingat bahwa bumi yang terlihat kokoh tetap memiliki kekuatan yang tidak selalu dapat dikendalikan.
Tanah dapat memberi kehidupan.
Tanah dapat memberikan hasil panen.
Tetapi tanah juga dapat bergerak.
Itulah sifat Geb.
Ia tidak hanya mewakili kesuburan yang tenang.
Ia juga mewakili kekuatan bumi yang dapat membuat segala sesuatu di atasnya bergeser.
Karena itu, Geb bukan sosok yang sepenuhnya lembut.
Seperti bumi itu sendiri, ia memiliki dua sisi.
Ia dapat memberi.
Ia juga dapat mengguncang.
Di Bawah Langit Nut
Waktu terus berjalan.
Anak-anak Geb menjadi tokoh utama dalam kisah mereka sendiri. Osiris menghadapi kematian. Isis mencari jalan untuk memulihkan apa yang telah hilang. Seth berhadapan dengan Horus. Dunia para dewa berubah karena perselisihan keluarga itu.
Tetapi Geb tetap berada di bawah.
Nut masih membentang di atasnya.
Shu masih berdiri sebagai pemisah.
Dan bumi tetap menjadi tempat semua kisah itu berlangsung.
Geb tidak perlu mengejar anak-anaknya ke medan pertempuran.
Ia tidak perlu mengangkat senjata untuk menunjukkan kekuatannya.
Setiap langkah mereka tetap terjadi di atas tubuhnya.
Setiap kerajaan berdiri di atasnya.
Setiap makam akhirnya kembali kepadanya.
Setiap tanaman yang tumbuh dari tanah membawa bagian dari dirinya.
Dan ketika manusia menatap langit, mereka mungkin melihat Nut.
Namun ketika kaki mereka menyentuh tanah, mereka berada di dalam wilayah Geb.
Bumi yang Tidak Pernah Pergi
Pada akhirnya, kisah Geb kembali kepada tempat ia berdiri sejak awal.
Di bawah langit.
Di bawah cahaya matahari.
Di bawah bintang-bintang yang menghiasi tubuh Nut.
Ia pernah menjadi seorang anak yang tidak dapat dipisahkan dari saudara kembarnya. Ia kemudian menjadi bumi yang dipisahkan dari langit agar dunia memiliki ruang. Ia menjadi ayah dari Osiris, Isis, Seth, dan Nephthys. Ia menjadi penguasa dan hakim ketika keturunan para dewa memperebutkan warisan.
Namun semua gelar itu tetap kembali kepada satu hal.
Geb adalah tanah.
Tempat kehidupan tumbuh.
Tempat kerajaan berdiri.
Tempat manusia berjalan.
Dan pada akhirnya, tempat kehidupan kembali.
Nut tetap jauh di atasnya, melengkung di seluruh langit. Di antara mereka, Shu terus menjaga ruang yang telah dibukanya pada awal dunia.
Geb tetap berada di bawah.
Diam, luas, dan tidak pernah meninggalkan tempatnya.
Selama bumi masih menjadi tempat berpijak, kisah Geb tidak pernah benar-benar berakhir.
Sebab setiap kehidupan yang muncul dari tanah membawa jejaknya, dan setiap kehidupan yang akhirnya kembali kepada tanah seakan pulang kepada seorang ayah yang telah menunggu sejak awal zaman.
