Atum: Ketika Dunia Belum Memiliki Bentuk

   
Atum: Ketika Dunia Belum Memiliki Bentuk

Atum: Ketika Dunia Belum Memiliki Bentuk

Sebelum langit terbentang dan sebelum tanah memiliki tempat untuk berpijak, tidak ada jalan, tidak ada gunung, tidak ada sungai yang mengalir menuju laut. Hanya air yang gelap dan luas tanpa batas, bergerak dalam keheningan yang tidak mengenal waktu. Tidak ada matahari untuk menerangi permukaannya. Tidak ada bintang. Tidak ada suara kehidupan.

Lalu dari kedalaman yang sunyi itu muncul sebuah daratan kecil.

Ben-ben menjulang dari air purba, sebuah tempat pertama yang dapat menjadi pijakan ketika segala sesuatu yang lain masih belum memiliki bentuk. Di atasnya berdiri Atum, seorang diri. Ia telah ada ketika belum ada dunia yang dapat menyebut dirinya dunia. Di sekelilingnya hanya terdapat keluasan yang kosong, sementara di dalam dirinya tersimpan sesuatu yang belum pernah dilihat oleh siapa pun: kemungkinan bagi segala sesuatu yang akan datang.

Atum memandang ke segala arah, tetapi tidak menemukan siapa pun.

Untuk pertama kalinya, ia mengetahui arti kesendirian.

Ia tidak memiliki ayah untuk memanggil namanya. Tidak ada ibu yang melahirkannya. Tidak ada saudara yang berdiri di sampingnya. Tidak ada anak yang dapat berjalan mengikuti langkahnya. Hanya Atum dan keluasan air purba yang mengelilingi bukit pertama tempat ia berdiri.

Namun kesunyian itu tidak dapat bertahan selamanya.

Di dalam diri Atum terdapat kekuatan untuk membuat sesuatu muncul dari ketiadaan. Maka ia mulai menciptakan kehidupan pertama yang akan mengubah kesunyian tersebut.

Ketika Atum Tidak Lagi Sendirian

Dari dirinya lahirlah dua sosok pertama yang akan menjadi bagian dari keluarga besar para dewa: Shu dan Tefnut.

Shu membawa udara dan ruang yang memungkinkan dunia bernapas. Tefnut membawa kelembapan, sesuatu yang kelak akan menyertai kehidupan. Keduanya adalah anak-anak Atum, tetapi sekaligus lebih dari sekadar keturunan. Mereka adalah awal dari sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Atum melihat keduanya pergi menjauh dari tempat ia berdiri.

Untuk sesaat, kesunyian kembali menyelimuti bukit pertama itu.

Shu dan Tefnut pergi semakin jauh ke dalam dunia yang masih belum memiliki bentuk. Atum menunggu, tetapi waktu berlalu tanpa kabar. Kekhawatiran perlahan tumbuh di dalam dirinya. Ia tidak tahu ke mana anak-anaknya pergi atau apakah mereka masih berada di dekatnya.

Maka Atum mengirimkan matanya untuk mencari mereka.

Mata itu bergerak melintasi kegelapan, mencari dua anak yang telah meninggalkan ayah mereka. Sementara itu Atum tetap berdiri sendirian di atas ben-ben, menunggu sesuatu yang belum ia ketahui akan kembali kepadanya.

Kemudian, setelah perjalanan yang panjang, Shu dan Tefnut akhirnya kembali.

Mereka membawa kembali mata Atum.

Ketika melihat anak-anaknya telah kembali dengan selamat, kesunyian yang selama itu menyelimuti dirinya seakan pecah. Atum merasakan kegembiraan yang begitu besar hingga air matanya jatuh ke tanah pertama yang muncul dari air purba.

Dari air mata itu lahirlah manusia.

Untuk pertama kalinya, kehidupan tidak lagi hanya berada di antara para dewa.

Ada makhluk yang rapuh, kecil, dan fana.

Atum telah menjadi asal dari sebuah dunia yang perlahan mulai dipenuhi kehidupan.

Anak-Anak yang Membentuk Dunia

Namun dunia yang baru lahir itu belum selesai.

Shu dan Tefnut memiliki anak-anak mereka sendiri. Dari keduanya lahirlah Geb dan Nut.

Geb menjadi bumi, tempat segala sesuatu kelak berdiri. Nut menjadi langit, membentang tinggi di atas dunia.

Tetapi keduanya terlalu dekat satu sama lain.

Nut membungkuk di atas Geb, sementara tubuh Geb terbaring di bawahnya. Tidak ada ruang di antara bumi dan langit. Dunia belum memiliki tempat yang cukup bagi kehidupan untuk berkembang.

Atum melihat keadaan itu.

Maka Shu, anaknya sendiri, berdiri di antara Geb dan Nut. Ia mengangkat Nut tinggi-tinggi dan memisahkan langit dari bumi.

Barulah ruang terbuka.

Barulah dunia memiliki jarak.

Di bawah Nut terbentang Geb. Di antara keduanya terdapat ruang tempat kehidupan dapat bergerak. Dan di atas semuanya berdiri warisan pertama Atum, sebuah keluarga dewa yang terus berkembang dari dirinya.

Dari Geb dan Nut kemudian lahirlah Osiris, Isis, Seth, dan Nephthys, empat sosok yang kelak membawa kisah mereka sendiri ke dalam dunia yang telah dibuka oleh Atum.

Atum tidak lagi berdiri sendirian.

Kesunyian yang dahulu mengelilinginya telah berubah menjadi keluarga.

Keluarga itu kemudian menjadi dunia.

Sang Ayah di Tengah Keluarga Para Dewa

Atum telah memulai sesuatu yang tidak dapat dihentikan.

Dari satu keberadaan muncul dua anak. Dari dua anak muncul bumi dan langit. Dari bumi dan langit muncul generasi baru yang kelak akan membawa cinta, perselisihan, kematian, kebangkitan, dan perebutan kekuasaan ke dalam dunia.

Namun Atum tidak selalu berdiri di tengah setiap kejadian.

Ia adalah sosok yang berada di awal, seperti akar yang tersembunyi di bawah tanah. Banyak hal akan terjadi setelahnya, tetapi semua itu memiliki hubungan dengan tindakan pertama yang dilakukannya ketika ia masih seorang diri di atas bukit pertama.

Karena itu Atum bukan hanya seorang pencipta yang menghasilkan kehidupan lalu meninggalkannya.

Ia juga menjadi leluhur dari keluarga ilahi yang terus berkembang.

Ketika Osiris dan Isis kemudian memiliki tempat penting dalam kehidupan dunia, ketika Seth membawa kekacauan ke dalam keluarganya sendiri, dan ketika Horus kelak berdiri menghadapi ayahnya, semua itu berlangsung di dalam dunia yang telah membuka jalannya sejak Atum memutuskan bahwa kesendirian tidak boleh menjadi akhir dari segala sesuatu.

Atum dan Matahari yang Terbenam

Atum tidak selalu digambarkan sebagai sosok yang berdiri di awal penciptaan. Dalam perjalanan waktu, dirinya semakin dekat dengan matahari dan dikaitkan dengan matahari ketika berada di penghujung perjalanannya.

Matahari terbit sebagai sesuatu yang muda, kemudian melintasi langit, sebelum akhirnya mencapai barat dan memasuki malam.

Di sanalah gambaran Atum menemukan tempatnya.

Ia dapat tampil sebagai sosok manusia yang mengenakan mahkota ganda Mesir Hulu dan Mesir Hilir, tetapi juga dapat digambarkan sebagai sosok yang lebih tua, sesuai dengan kedudukannya sebagai matahari yang telah menyelesaikan perjalanannya.

Pada saat matahari menghilang di ufuk barat, Atum seakan mengambil kembali tempatnya sebagai sosok yang mengetahui akhir sebagaimana ia pernah mengetahui awal.

Tetapi akhir bukan berarti lenyap.

Malam akan berlalu.

Matahari akan kembali.

Dan kehidupan akan bergerak lagi.

Dalam perjalanan itu, Atum menjadi gambaran tentang sesuatu yang telah mencapai ujung tetapi tetap membawa kemungkinan bagi awal yang baru.

Jejak Atum yang Tidak Pernah Hilang

Waktu terus berjalan setelah Atum menciptakan generasi pertama para dewa.

Anak-anaknya menjadi bagian dari dunia. Cucu-cucunya mengisinya dengan kehidupan. Generasi berikutnya membawa kisah yang lebih besar lagi. Nama-nama seperti Osiris, Isis, Seth, Nephthys, dan Horus kemudian menjadi pusat dari kisah-kisah yang jauh lebih dikenal oleh banyak orang.

Namun jauh sebelum mereka mengambil tempat masing-masing, Atum telah berdiri sendirian di atas bukit pertama.

Ia tidak memiliki dunia untuk diwarisi.

Ia tidak memiliki keluarga untuk dipanggil.

Ia hanya memiliki dirinya sendiri dan keluasan air purba yang tidak berujung.

Lalu ia menciptakan.

Dari tindakannya lahirlah Shu dan Tefnut. Dari mereka muncul Geb dan Nut. Dari Geb dan Nut lahirlah generasi yang kemudian memenuhi dunia dengan kisah mereka sendiri.

Begitulah perjalanan Atum meninggalkan jejaknya.

Bukan sebagai seorang raja yang memerintah setiap kejadian, melainkan sebagai sosok yang berdiri pada ambang pertama, ketika segala sesuatu masih mungkin terjadi.

Dan ketika dunia telah penuh dengan kehidupan, ketika langit telah terpisah dari bumi dan keluarga para dewa telah tumbuh menjadi begitu besar, Atum tetap berada di sana dalam ingatan yang jauh—seorang pencipta yang pernah berdiri sendirian di atas ben-ben, lalu mengubah kesunyian menjadi sebuah dunia.

Last update
Add Comment

⚡ Trending!